GRPC

GRPC #

Dalam arsitektur sistem modern—terutama microservices dan distributed systems—komunikasi antar service menjadi faktor krusial. REST dengan HTTP/JSON sudah lama menjadi standar de facto, namun seiring meningkatnya kompleksitas sistem, kebutuhan akan komunikasi yang lebih cepat, lebih efisien, dan lebih terstruktur semakin besar. Dari kebutuhan inilah gRPC hadir.

gRPC bukan sekadar “alternatif REST”, melainkan pendekatan berbeda dalam membangun komunikasi antar service yang berorientasi pada kontrak, performa, dan skalabilitas.

Apa Itu gRPC? #

gRPC (Google Remote Procedure Call) adalah framework RPC (Remote Procedure Call) open-source yang dikembangkan oleh Google. gRPC memungkinkan sebuah service memanggil fungsi di service lain seolah-olah memanggil fungsi lokal, meskipun sebenarnya berada di mesin atau jaringan yang berbeda.

Ciri utama gRPC:

  • Berbasis HTTP/2
  • Menggunakan Protocol Buffers (Protobuf) sebagai format data
  • Berorientasi contract-first
  • Mendukung komunikasi unary, streaming, dan bi-directional streaming

Sejarah Singkat gRPC #

  • 2001–2010: Google menggunakan RPC internal bernama Stubby untuk komunikasi antar service di dalam infrastrukturnya
  • 2015: Google merilis gRPC ke publik sebagai open-source
  • 2016–sekarang: gRPC diadopsi luas oleh komunitas untuk microservices, cloud-native, dan high-performance systems

gRPC pada dasarnya adalah evolusi dari praktik RPC internal Google yang telah teruji pada skala masif.


Nilai Penting gRPC #

Kontrak yang Jelas dan Konsisten #

Dengan Protobuf, API didefinisikan secara eksplisit melalui file .proto. Ini menciptakan:

  • Single source of truth
  • Minim ambiguity antara client dan server
  • Dokumentasi yang otomatis

Performa Tinggi #

  • Protobuf lebih kecil dan cepat dibanding JSON
  • HTTP/2 mendukung multiplexing dan header compression
  • Latency lebih rendah untuk komunikasi internal

Cocok untuk Microservices #

  • Antar service biasanya berada di jaringan yang sama
  • Membutuhkan komunikasi cepat dan sering
  • gRPC sangat optimal untuk service-to-service communication

Multi-language First Class #

Dari satu file .proto, client dan server stub bisa di-generate untuk banyak bahasa:

  • Go, Java, Python, Node.js, C++, Rust, dll

Cara Kerja Singkat gRPC #

  1. Developer mendefinisikan service dan message di file .proto
  2. Protobuf compiler menghasilkan client & server stub
  3. Client memanggil method RPC
  4. gRPC mengirim request via HTTP/2
  5. Server memproses dan mengembalikan response

Semua proses ini tersembunyi di balik abstraksi RPC.


Kelebihan gRPC #

Performa dan Efisiensi #

  • Payload kecil
  • Serialization/deserialization cepat
  • Cocok untuk high-throughput system

Streaming Native #

gRPC mendukung:

  • Server streaming
  • Client streaming
  • Bi-directional streaming

Ini sulit dan tidak natural di REST.

Contract-First Development #

  • API lebih terkontrol
  • Breaking change lebih mudah dideteksi
  • Cocok untuk organisasi besar

Tooling dan Ecosystem Kuat #

  • Code generation
  • Middleware (interceptor)
  • Observability (tracing, metrics)

Kekurangan gRPC #

Tidak Human-Readable #

  • Protobuf bukan format teks
  • Sulit debugging manual tanpa tooling

Kurang Cocok untuk Public API #

  • Browser tidak mendukung gRPC native
  • Butuh gRPC-Web sebagai workaround

Learning Curve Lebih Tinggi #

  • Harus memahami Protobuf
  • Konsep streaming & HTTP/2

Overkill untuk Sistem Sederhana #

Untuk CRUD sederhana, REST seringkali lebih praktis.


Perbandingan gRPC dengan Metode Lain #

gRPC vs REST #

AspekgRPCREST
ProtocolHTTP/2HTTP/1.1 / HTTP/2
Format DataProtobuf (binary)JSON (text)
PerformaSangat tinggiCukup
ContractWajib (proto)Opsional
StreamingNativeTidak natural
Browser FriendlyTidakYa

gRPC vs GraphQL #

AspekgRPCGraphQL
FokusService-to-serviceClient-to-API
Query FleksibelTidakYa
StreamingYaTerbatas
Performa InternalSangat baikCukup

Kapan Sebaiknya Menggunakan gRPC? #

Gunakan gRPC jika:

  • Microservices internal
  • High-performance requirement
  • Banyak komunikasi antar service
  • Multi-language environment

Hindari gRPC jika:

  • Public API untuk browser
  • Sistem sederhana
  • Tim belum siap dengan kompleksitas tambahan

Best Practice #

Desain Protobuf dengan Hati-hati #

  • Jangan sering mengubah field number
  • Gunakan backward-compatible change
  • Hindari breaking change

Gunakan Versioning #

  • Version di package protobuf
  • Hindari hard breaking API

Terapkan Timeout dan Deadline #

  • Selalu set deadline di client
  • Hindari infinite call

Gunakan Interceptor #

  • Logging
  • Authentication
  • Metrics dan tracing

Jangan Ekspos gRPC Langsung ke Publik #

  • Gunakan API Gateway
  • Atau expose REST/GraphQL di edge

Observability Itu Wajib #

  • Distributed tracing
  • Structured logging
  • Metrics per RPC

Penutup #

gRPC adalah solusi komunikasi yang kuat, cepat, dan terstruktur, sangat cocok untuk sistem modern berskala besar. Namun, gRPC bukan silver bullet. Pemilihan gRPC harus didasarkan pada konteks, kebutuhan sistem, dan kesiapan tim.

REST masih relevan, GraphQL punya tempatnya sendiri, dan gRPC unggul di ranah internal microservices. Engineer yang baik bukan yang selalu memakai teknologi paling canggih, tetapi yang menggunakan teknologi yang tepat untuk masalah yang tepat.

About | Author | Content Scope | Editorial Policy | Privacy Policy | Disclaimer | Contact