Workflow

Workflow #

Dalam software engineering, workflow sering kali dianggap sekadar urutan proses: backlog → development → testing → release. Padahal, di balik itu, workflow adalah cara tim berpikir dan bekerja bersama untuk mengubah ide menjadi nilai nyata bagi pengguna.

Dalam kerangka Scrum, workflow tidak pernah benar-benar distandarkan secara kaku. Setiap tim, setiap perusahaan, bahkan setiap fase produk, bisa dan seharusnya memiliki workflow yang berbeda. Artikel ini tidak membahas implementasi teknis atau tool tertentu, tetapi membedah apa itu workflow, mengapa ia penting, tujuan yang ingin dicapai, dan best practice dalam merancang workflow engineering yang sehat dan adaptif.

Apa Itu Workflow dalam Software Engineering? #

Secara sederhana, workflow adalah:

Pola alur kerja yang disepakati tim untuk mengubah kebutuhan (requirement) menjadi software yang siap digunakan.

Namun dalam praktik, workflow mencakup lebih dari sekadar alur kerja:

  • Bagaimana sebuah ide masuk ke sistem
  • Bagaimana prioritas ditentukan
  • Kapan dan bagaimana developer mulai bekerja
  • Bagaimana perubahan diuji, direview, dan dirilis
  • Bagaimana feedback pengguna kembali ke tim

Dalam Scrum, workflow hidup di antara artefak dan event Scrum:

  • Product Backlog
  • Sprint Planning
  • Sprint Execution
  • Sprint Review
  • Retrospective

Workflow bukan Scrum itu sendiri, melainkan cara engineering memanfaatkan Scrum agar kerja tim tetap terstruktur tanpa kehilangan fleksibilitas.


Workflow ≠ Proses Kaku #

Kesalahan umum dalam merancang workflow adalah memperlakukannya sebagai aturan tetap.

Workflow yang sehat bersifat:

  • Evolusioner – berubah seiring tim dan produk berkembang
  • Kontekstual – sesuai dengan ukuran tim, domain, dan risiko
  • Disepakati bersama – bukan dipaksakan dari atas

Workflow yang terlalu kaku biasanya menghasilkan:

  • Banyak bottleneck
  • Friksi antar role (dev, QA, PM)
  • Fokus pada compliance, bukan value

Sebaliknya, workflow yang terlalu longgar menghasilkan:

  • Ketidakjelasan tanggung jawab
  • Scope creep
  • Inkonsistensi kualitas

Keseimbangan inilah yang menjadi inti desain workflow.


Nilai Penting Workflow bagi Tim Engineering #

Menciptakan Predictability #

Workflow membantu tim menjawab pertanyaan penting:

  • Kapan fitur ini kemungkinan selesai?
  • Di tahap mana sebuah task berada?
  • Apa yang sedang menghambat delivery?

Predictability bukan tentang estimasi yang sempurna, melainkan tentang alur kerja yang konsisten dan dapat dipahami.

Mengurangi Cognitive Load Developer #

Tanpa workflow yang jelas, developer harus terus-menerus memutuskan:

  • Apakah task ini siap dikerjakan?
  • Apakah perlu review dulu atau testing dulu?
  • Apakah boleh langsung deploy?

Workflow yang baik:

  • Menghilangkan keputusan-keputusan kecil yang berulang
  • Membebaskan energi mental untuk problem teknis yang lebih penting

Menjaga Kualitas Tanpa Memperlambat Tim #

Workflow bukan hanya soal kecepatan, tapi kontrol kualitas:

  • Kapan code review wajib?
  • Kapan automated testing menjadi gate?
  • Kapan manual verification dibutuhkan?

Workflow yang matang menjaga kualitas sebagai bagian dari alur, bukan sebagai fase terpisah yang mahal.

Menjadi Media Komunikasi Tim #

Workflow adalah bahasa bersama:

  • Antara Product dan Engineering
  • Antara Engineering dan QA
  • Antara tim dan stakeholder

Ketika workflow jelas, konflik sering kali berkurang karena:

Masalah terlihat sebagai masalah sistem, bukan masalah individu.


Tujuan Utama Workflow dalam Kerangka Scrum #

Dalam konteks Scrum, workflow engineering idealnya bertujuan untuk:

  1. Memaksimalkan value delivery per sprint
  2. Meminimalkan waste (rework, handoff berlebihan, waiting time)
  3. Mendukung inspeksi dan adaptasi
  4. Menjaga sustainability tim

Workflow yang baik tidak mengejar kecepatan jangka pendek dengan mengorbankan stabilitas jangka panjang.


Prinsip Best Practice dalam Merancang Workflow #

Mulai dari Masalah, Bukan Tool #

Workflow sering gagal karena dimulai dari:

  • “Kita pakai tool ini, jadi workflow-nya harus begini”

Pendekatan yang lebih sehat:

  • Masalah apa yang sering terjadi?
  • Di mana bottleneck muncul?
  • Di mana kualitas sering bocor?

Workflow adalah jawaban atas masalah, bukan sebaliknya.

Visualisasikan Alur Kerja #

Workflow yang tidak terlihat akan sulit dievaluasi.

Prinsip penting:

  • Setiap tahap harus jelas
  • Transisi antar tahap harus bermakna
  • Jangan terlalu banyak status

Visualisasi membantu tim melihat:

  • Work in progress (WIP)
  • Antrian tersembunyi
  • Tahap yang sering macet

Batasi Work in Progress (WIP) #

Tanpa batasan WIP, workflow terlihat cepat tapi sebenarnya lambat.

Dampak WIP berlebihan:

  • Banyak task setengah jadi
  • Context switching tinggi
  • Review dan testing menumpuk

Workflow yang sehat lebih memilih:

Sedikit task selesai sepenuhnya daripada banyak task hampir selesai.

Jadikan Definition of Done sebagai Penjaga Workflow #

Workflow dan Definition of Done (DoD) harus saling menguatkan.

DoD yang baik menjawab:

  • Apa arti “selesai” bagi tim?
  • Apakah sudah dites?
  • Apakah sudah siap dirilis?

Tanpa DoD yang jelas, workflow kehilangan makna di tahap akhir.

Workflow Harus Mendukung Feedback Cepat #

Scrum menekankan feedback loop.

Workflow engineering yang baik:

  • Mempercepat feedback dari testing
  • Mempercepat feedback dari user
  • Mempercepat feedback antar anggota tim

Semakin cepat feedback masuk ke workflow, semakin kecil biaya kesalahan.

Review Workflow Secara Berkala #

Workflow bukan keputusan sekali jadi.

Gunakan retrospective untuk bertanya:

  • Tahap mana yang paling sering menghambat?
  • Apakah workflow masih relevan dengan kondisi tim saat ini?
  • Apakah ada aturan yang sudah tidak memberi nilai?

Perubahan kecil namun konsisten jauh lebih sehat daripada redesign besar yang jarang.


Kesalahan Umum dalam Workflow Engineering #

Beberapa anti-pattern yang sering muncul:

  • Workflow terlalu detail hingga menghambat improvisasi
  • Terlalu banyak approval gate
  • Workflow dipakai untuk mengontrol, bukan membantu
  • Workflow berbeda antara teori dan praktik

Jika workflow sering diakali oleh tim, itu sinyal bahwa workflow tersebut perlu diperbaiki.


Penutup #

Dalam Scrum, workflow bukan sekadar mekanisme operasional, melainkan fondasi cara kerja engineering team.

Workflow yang baik:

  • Memberi kejelasan tanpa membunuh fleksibilitas
  • Menjaga kualitas tanpa memperlambat delivery
  • Membantu tim fokus pada value, bukan ritual

Tidak ada workflow yang universal. Yang ada adalah workflow yang tepat untuk konteks tertentu, dan keberanian untuk terus memperbaikinya.

Pada akhirnya, workflow yang paling efektif adalah workflow yang membantu tim bekerja lebih manusiawi, lebih fokus, dan lebih berkelanjutan.

About | Author | Content Scope | Editorial Policy | Privacy Policy | Disclaimer | Contact